there's a feeling between them two
that they were just hide it to each other.
none of them have ever talked about it.
till time went on and on.
and one fine day they met again.
she said "what have you been doing?"
he said "waiting for you"
she touched by his words.
he came over her and pressed his lips gently to hers.
they finally knew they were meant for each other, ever since.
***
I don't mind waiting if when it comes to someone who worth to wait for.
I believe God's timing is always right.
Sunday, April 20, 2014
Friday, January 24, 2014
Prinsipil Vs Fleksibel
Siang tadi sehabis kuliah Pemkot, saya Iga, Nurul, Wiwid
pergi makan siang ke the kiosk balubur. Ini kali pertama saya mengunjungi
tempat makan ini. Saya pikir tempatnya standar, namun pas memasuki ke dalam
ruangannya, saya merasakan suasana berbeda dari tempat makan yang biasanya
yakni suasana agak kehutan-hutanan dengan sedikit sentuhan Ancient Greek.
Suasana nyaman di the kiosk balubur ini langsung mendapat tempat tersendiri
dalam hati saya. Sampai-sampai saya menjadikannya favorite place to
ngansos/nugas next time hahaha.
Awalnya kami di sana hanya berniat untuk makan siang saja.
Berhubung ada akses wifi, kami pun jadi keasyikan betah berlama-lama
di sana sambil internetan melalui hp kami masing-masing. Pada suatu ketika saya
bilang sesuatu ke teman-teman saya,
Ir: “eh gue pengen confess sesuatu nih, tapi jangan pada
ketawa ya hahaha” *belum apa-apa kami semua pun tertawa *ga jelas emang.
Ir: “Duh gue malu nih ngomongnya, soalnya apa yang mau gue
omongin ini kaya ngejilat ludah sendiri wakakak” *anak-anak pun tambah
penasaran.
Ir: “Oke, jadi… Akhirnya gue memutuskan buat bikin akun Instagram
lagi masa…” *ga berapa lama kemudian semua pun ketawa
Ig: “Wahahaaa congrats reeen” *dengan muka tulus tapi bernada
sarkasme *tai emang hahaha
Ig: "Jadi… Akhirnya lo udah punya instagram lagi nih? Semacam
jilat ludah sendiri sih ya yang dulu bilang ga mau punya Instagram eh sekarang
bikin lagi hahaha. Tapi gapapa kita bisa follow-followan lah ya. Apa nama akun
lo?"
Baru sempet saya respon: “hahaha makanya tadi gue agak ragu
nih ngaku sama lo pada tapi yaudahlah aja dah”. Tiba-tiba ternyata sedari Iga
nyelamatin saya tadi, dia iseng merekam obrolan kami untuk dishare ke grup GMB
(Geng Mari Berantem). Tapi FAIL! HAHAHAHAH! Dia teriak: “Ah ternayata gue tadi
belum mencet record!”. Semua pun jadi tertawa melihat tingkah Iga.
Ir: “Hahhh untung gue ga jawab akun gue apa, pasti lo semua
langsung pada kepo dah, ogah gue.” Saya lanjutkan obrolan dengan mengutarakan
alasan saya mengapa saya membuat akun Instagram lagi, “Lagian alasan gue bikin Instagram,
gara-gara semalem gue abis kepo thebalibible choy, anjir lah semua fotonya bagus-bagus
banget buat gue makin ngiler dan tambah cinta sama Bali men! So, kayaknya biar gue
semakin semangat mengejar cita (menyelesaikan TA nanti hingga rencana membangun
usaha di sana kelak) gue perlu mengetahui perkembangan Bali ya kan hohoho. Ga
ada foto apa-apa juga orang tuh akun khusus buat ngepoin tentang Bali dah
pokoknya bahkan following gue isinya yang berbau Bali semua. Sampe-sampe bio
gue gue tulis ‘Fall in love with Summer, Sunkisses, and Bali’ saking gue
bener-bener segitu cintanya sama Bali!”
Nu: “Alah paling lama-lama juga lo bakal share foto juga
nanti.”
Ir: “Entahlah, buat sekarang sih ga mau dulu hahaha.”
Nu: “Emang apa sih nama akun lo?”
Ir: “Eits, kaga deh entar lo pada kepo, trus komen yang
macem-macem lagi kalo-kalo gue ngepos foto”
Nu: “Kalo gue sampe nemu akun lo gimana?”
Ir: “Ga mungkin”
Nu: “Mungkin aja, gue bakal googling cari Instagram dengan
bio ‘Fall in love with Summer, Sunkisses, and Bali’ itu nanti juga muncul nama akun
lo hahaha”
Ir: “HAHAHAH anjir pinter juga lo nuy! Duh kenapa gue ngasih tau bio gue segala ya, entar bisa
aja ketauan nih kalo sampe digoogling. Okelah nanti gue ubah aja bionya weee
hahahah”
***
Cuplikan obrolan di atas itu emang agak absurd ya. Terlebih
saya -_-. Hahaha tidak jelas memang. Yasudahlah memang begitu lah adanya
hahaha.
Ya, saya sudah terlanjur kepincut sama Bali semenjak saya tinggal selama 2 bulan
di sana untuk mengenyam KP (sembari liburan) Juli-Agustus 2013 lalu. Saya jatuh cinta akan kekayaan
alamnya yang begitu indah bagai surga dunia, lingkungan, budaya, serta warga lokalnya
yang ramah-ramah. Sungguh kesan yang terasa selama tinggal di Bali adalah adanya energi positif yang memicu timbulnya kedamaian pada jiwa dan raga ini. Hingga kini pun saya masih merasa bahwa separuh hati saya berada
di tanah dewata itu.
Bahkan saking cintanya sama Bali saya rela menjilat ludah saya
sendiri (ga ada kaitannya kali cinta sesuatu sama jilat ludah sendiri -___-) yang
dulunya berniat ga mau punya Instagram karena takut mendapat pengaruh buruk seperti
menjadi ketergantungan blablabla yang dulu sempat saya pos juga di sini.
Kalau membaca tulisan saya yang satu itu, rasanya pengen ketawa terbahak-bahak
mendapati dulu labil banget saya ini -_- hahaha.
Ya maklum saja, kita hidup
kan untuk mencari jati diri. Untuk dapat menemukan jati diri kita sesungguhnya kita harus
melalui sebuah proses hidup dimana kita mau mencoba berbagai hal, termasuk
berpendapat tentang sesuatu. Kalau pun ternyata apa yang telah diucapkan
seseorang harus ditarik kembali itu ya karena mungkin saja orang tersebut telah
menemukan jawaban dari kegelisahan atas yang dia rasakan dahulu. Tidak perlu menjadi
keras kepala bertahan menuruti prinsip yang dirasa terlalu mengekang diri
hingga diri tidak bisa mengembangkan sesuatu hal yang bisa saja hal tersebut justru memberi
kebaikan untuknya. Jadi, menjadi seorang prinsipil itu baik, tapi lebih baik
lagi menjadi orang yang fleksibel kan? :) *alah pinter amat gue ngeles ya
wakaka :p
Sekian pos saya kali ini. Buat yang bingung inti dari tulisan saya kali ini apa, intinya berada tepat di paragraf terakhir
di atas ini hehehe. Cheers!
Wednesday, October 23, 2013
Tribute to My Dearest Bestfriend, Iga Andita Lestari
Sosok wanita jangkung berparas model itu
mendatangiku untuk berkenalan. Pribadinya yang jenaka bertemu dengan diri yang
sama-sama jenaka ini pula membuat kita kerap kali berkelakar melucu satu sama
lain tanpa perlu ada script yang mengatur. Sehingga kami selalu berhasil mencairkan setiap
suasana dimana pun berada. Semenjak saat itu kita yang dari tingkat I sekelas terus dan kebetulan satu jurusan juga, ditambah adanya kesamaan momen
senasib sepenanggungan karena nilai TPB kami yang jelek (ya, saat itu kita
memang masih anak bawang yang baru terlepas dari dunia remaja yang masih
berpikir bahwa di dunia perkuliahan pun masih dapat bermain-main. Tapi seiring
waktu berjalan, kami menyadari bahwa pikiran polos kita saat itu salah). Namun dengan
dukungan satu sama lain kami beranjak merubah nasib untuk memperbaiki nilai
jelek tersebut serta bertekad merubah diri agar menjadi orang yang lebih baik lagi. Dengan
modal tulus berharap agar kita dapat mewujudkan impian kita tersebut, muncullah
sebuah ikatan persahabatan di antara kami.
Bagi kami, tidak ada hal yang tidak bisa
diceritakan. Bahkan untuk cerita random yang tidak penting sama sekali pun
dapat dengan mudah diceritakan tanpa khawatir dengan apapun. Yang pasti, satu
sama lain dari kita akan selalu setia mendengarkan cerita-cerita itu secara seksama.
Segala momen dari yang bersuasana bahagia,
haru, menyedihkan, hingga mengesalkan sekalipun sudah kami lewati bersama.
Kisah pertikaian dramatis khas ftv pun juga pernah melanda persahabatan kami.
(Stop, jangan membayangkan adegan jambak-jambakan rambut ya, itu sih lebay
banget. Hahaha. Ya kalau perlu bayangan sedramatis apa sih pertikaian itu,
cluenya hanya sebatas adu mulut. Kebayang kan hebohnya cewek-cewek kalo lagi
adu mulut di sinetron? Wkwkwk). Namun hal-hal yang seperti itu saat ini sudah
jarang ditemukan. Karena sudah saling mengerti satu sama lain, kami akan sebisa
mungkin mencegah hal yang memicu pertikaian itu terjadi.
Ada masa dimana kami sering menginap
bersama di kosan masing-masing. Berdiskusi dari petang hingga subuh, hanya
untuk membahas tentang makna kehidupan. Menarik, karena pendapat kita pasti
selalu dihargai satu sama lain. Satu hal yang paling sering kami lakukan adalah
membicarakan hal-hal yang berkualitas mengenai cita-cita kami masing-masing di
masa depan nanti. Mencari langkah bagaimana kami dapat mencapai ke gerbang
kesuksesan di sana. Merefleksikan segala kekurangan yang masih hinggap di diri
kita yang menghambat diri dari pencapaian kesuksesan nanti. Kemudian menggantinya
dengan menanamkan ke diri masing-masing sebuah mental juara agar kita dapat dengan lancar berjalan di arah dan jalur
yang benar. Sehingga memudahkan kita untuk dapat mewujudkan cita-cita tersebut.
Apresiasi, pujian, dukungan, dan motivasi
sudah tidak perlu diragukan, setiap saat pun kami pasti selalu menyemangati
satu sama lain. Bahkan mungkin di setiap 5 waktu ibadah yang kami jalani juga
sering kali terucap doa agar kami dapat menggapai cita-cita kami tersebut
kelak.
Pagi ini, lorong gedung prodi menyaksikan
momen haru ketika dua sahabat saling bertemu. Mataku terbelalak tak menyangka
ketika berseberangan melihat ada yang berbeda dari sosok wanita jangkung
berparas model ini dari kejauhan. Kami saling menyapa dan berpelukan sambil
bersimbah air mata. Suatu hal yang baik baru saja dimulai hari ini. Hal baik
itu adalah kini sahabatku Iga Andita Lestari, akhirnya sudah mantap mengenakan
hijab syar'i! Demi apapun, betapa bangganya aku melihatmu kini sudah 100 kali
lebih baik dari sebelumnya. Bahkan aku akui kamu menjadi semakin cantik
menyerupai malaikat-malaikat di surga sana. Aku doakan semoga kamu selalu
istiqomah menjalankan jihad ini di jalan Allah SWT. Dan karena kamu sudah
berhijab seperti ini, insya Allah segala kebaikan dari-Nya akan selalu
didekatkan kepadamu, Ga. Amin ya Rabbal Alamin... :')
ps:
Ga, gue ga ngerti lagi harus merayakan momen indah ini kayak gimana lagi. Dengan resminya lo berhijab, hal itu sangat menginspirasi buat orang-orang lain loh, termasuk gue sendiri. Makanya gue jadiin bahan blog-an gue ya hahaha.
Gue inget banget, dulu setiap malem lo selalu bercerita dengan berapi", pengen jadi Puteri Indonesia. Lo pun menunjukkan keseriusan lo itu dengan mengikuti ajang pemilihan Abang None Jakarta 2012 kemarin, yang hasilnya lo terpilih jadi pemenang Harapan 1 which is pencapaian segitu udah lumayan banget!
Tapi mungkin lo kecewa dengan tidak terpilihnya lo menjadi juara utama yang menjadikan lo males untuk melanjutkan misi lo menjadi Puteri Indonesia. Tapi lihatlah kebaikan yang Allah sudah siapkan untuk lo sekarang Ga. Sekarang, lo udah dipilih langsung sama juri semesta alam untuk selalu didekatkan dengan-Nya, yang mana manfaatnya tidak hanya duniawi, tapi langsung surgawi, Ga! Indah kan? :)
Jujur, gue sedih sekaligus bahagia mendapati sobby gue satu ini berhijab.
Sedihnya, kita udah ga bisa gila"an to the max lagi huhuhu bakal kangen momen gila bareng lo deh nanti :(
Bahagianya, gue bakal lebih jarang melakukan hal" gila tersebut karena partner gue ini udah berhijab jadinya kita sama" terhindar dari api neraka deh hahaha :D
Btw malu juga ye sama diri sendiri, punya sahabat" pada berhijab semua, tapi diri ini masih belum berhijab samsek. Bahkan cita-cita untuk berhijab dari 2 tahun yang lalu, masih belum dapat terealisasikan juga (entah kenapa -_-). Malah lo yang pake hijab duluan daripada gue Ga. Hahaha. Tapi gpp malah bagus banget itu. Doain aja ya, semoga gue cepet nyusul lo. Dan nantinya kita, gue, lo, Nurul, bisa jadi the truly Three Angels! Hahaha :*
Oia, tadi kita lupa foto bareng, jadinya gue pasang foto candice & rosie dulu deh wkwkwk. Besok kita foto bareng, nanti gue update fotonya jadi foto kita berdua yang lo lagi pake hijab. Okey {}
Oia, tadi kita lupa foto bareng, jadinya gue pasang foto candice & rosie dulu deh wkwkwk. Besok kita foto bareng, nanti gue update fotonya jadi foto kita berdua yang lo lagi pake hijab. Okey {}
Tuesday, October 22, 2013
Curcol Kekocakan
Mau curcol dikit ah tentang kekocakan hari ini...
Jadi hari ini gue baru pertama kali diskusi ke calon dosbing gue Pak Arief (amin dah insyaAllah beliau beneran jadi dosbing gue nantinya *pede *yakin). Bayangin udah berapa minggu perkuliahan semester 7 ini berjalan, baru sekarang dong gue sempet bertatap muka berdiskusi dengan calon dosbing -_- (gila segitu sibuknya kah gue sampe ga sempet ketemu sama calon dosbing sendiri hahaha). Itu juga gara" lagi jalan ga sengaja ketemu beliau di lorong gedung pas kita sama" mau naik lift. Begitu gue lihat Pak Arief langsunglah gue samperin ngajak janjian buat ngobrolin topik metlit gue. Beliau pun langsung mengiyakan tawaran itu.
Ketika jam menunjukkan pukul 16.00, gue langsung menuju ke ruangannya Pak Arief di lantai 3 sambil membawa proposal metlit gue. Diskusi berlangsung sebentar sekitar 30 menit gitu, tapi udah banyak hal yang didapat. Segala feedback-an positif dari dia membuat gue semakin bersemangat untuk menggarap topik otentik dari pemikiran gue sendiri (maksudnya bukan topik riset dosen) itu. Kata beliau proposal metlit gue judul topiknya udah bagus, isi sasaran penelitiannya pun juga cukup lumayan. Tinggal lebih diperdalam lagi aja, cari tambahan referensi buat masing" poin sasaran penelitian gue nantinya. Udah banyak catatan tambahan juga dari beliau untuk gue membuat tugas selanjutnya seperti menentukan kerangka berpikir, metode pengumpulan data, dan metode analisis. (Well, kalo ga ada studio, rasanya pengen gue kerjain aja deh tugas yang dikasih ini biar makin cepet pula TA gue kelarnya hahaha *pret *sok iye lo. Ya tapi apa daya, ternyata paksaan untuk menyelesaikan analisis studio lebih kuat bro :'( huhuhu *terus jadi inget analisis aspek yang belum kelar" *terjun dari tebing. aaaaaaaaaaaakkkkkkkk *blackout)
Dan... Pas keluar ruangannya Pak Arief, wajah gue pun menjadi sumringah. Gue pun balik lagi ke ruang seminar ngikut parallel session Planocosmo. Duduk di samping Dikaf, gue curhat lah hasil obrolan kebahagiaan gue pas diskusi sama Pak Arief tadi ke dia. Eh dia malah sok"an ga seneng sama keberhasilan gue itu. --> Fyi dia emang selalu kayak begini; NGESELIN.
D: gue akan selalu membuat lo down, ren...
I: *menatap dia dengan meme 'bitch please'-nya 9gag* *lalu merespon komennya Dikaf pake nyanyian roar dengan muka nantang* "you held me down, but I got up~ hey!" *terus langsung pergi*
D: *ketawa* --> lah die malah ketawa si ngono -_-
Kalo kata Iga, momen" begini seharusnya ada kotak item yang muncul di atas kepala kita, bertuliskan: BESTFRIEND. (maksudnya kayak di 9gag" gitu).
Gue kalo inget kejadian sore tadi, ditambah inget kata" Iga ini, jadi ketawa sendiri juga. Hahahahahahahahahahahahaha kocak juga ye idup. *bingung sendiri*
Udah segitu aja curcolannya, gue mau lanjut ngaspek dulu cyin. Banyak bots ini input data, Ngerjainnya aja sampe mau nangis saking banyaknya huhuhu TTT___TTT. *ini gue bingung, antara lebay apa lemah ye gue? *halah ga jelas. *yaudah ya, bye ol~
Jadi hari ini gue baru pertama kali diskusi ke calon dosbing gue Pak Arief (amin dah insyaAllah beliau beneran jadi dosbing gue nantinya *pede *yakin). Bayangin udah berapa minggu perkuliahan semester 7 ini berjalan, baru sekarang dong gue sempet bertatap muka berdiskusi dengan calon dosbing -_- (gila segitu sibuknya kah gue sampe ga sempet ketemu sama calon dosbing sendiri hahaha). Itu juga gara" lagi jalan ga sengaja ketemu beliau di lorong gedung pas kita sama" mau naik lift. Begitu gue lihat Pak Arief langsunglah gue samperin ngajak janjian buat ngobrolin topik metlit gue. Beliau pun langsung mengiyakan tawaran itu.
Ketika jam menunjukkan pukul 16.00, gue langsung menuju ke ruangannya Pak Arief di lantai 3 sambil membawa proposal metlit gue. Diskusi berlangsung sebentar sekitar 30 menit gitu, tapi udah banyak hal yang didapat. Segala feedback-an positif dari dia membuat gue semakin bersemangat untuk menggarap topik otentik dari pemikiran gue sendiri (maksudnya bukan topik riset dosen) itu. Kata beliau proposal metlit gue judul topiknya udah bagus, isi sasaran penelitiannya pun juga cukup lumayan. Tinggal lebih diperdalam lagi aja, cari tambahan referensi buat masing" poin sasaran penelitian gue nantinya. Udah banyak catatan tambahan juga dari beliau untuk gue membuat tugas selanjutnya seperti menentukan kerangka berpikir, metode pengumpulan data, dan metode analisis. (Well, kalo ga ada studio, rasanya pengen gue kerjain aja deh tugas yang dikasih ini biar makin cepet pula TA gue kelarnya hahaha *pret *sok iye lo. Ya tapi apa daya, ternyata paksaan untuk menyelesaikan analisis studio lebih kuat bro :'( huhuhu *terus jadi inget analisis aspek yang belum kelar" *terjun dari tebing. aaaaaaaaaaaakkkkkkkk *blackout)
Dan... Pas keluar ruangannya Pak Arief, wajah gue pun menjadi sumringah. Gue pun balik lagi ke ruang seminar ngikut parallel session Planocosmo. Duduk di samping Dikaf, gue curhat lah hasil obrolan kebahagiaan gue pas diskusi sama Pak Arief tadi ke dia. Eh dia malah sok"an ga seneng sama keberhasilan gue itu. --> Fyi dia emang selalu kayak begini; NGESELIN.
D: gue akan selalu membuat lo down, ren...
I: *menatap dia dengan meme 'bitch please'-nya 9gag* *lalu merespon komennya Dikaf pake nyanyian roar dengan muka nantang* "you held me down, but I got up~ hey!" *terus langsung pergi*
D: *ketawa* --> lah die malah ketawa si ngono -_-
Kalo kata Iga, momen" begini seharusnya ada kotak item yang muncul di atas kepala kita, bertuliskan: BESTFRIEND. (maksudnya kayak di 9gag" gitu).
Gue kalo inget kejadian sore tadi, ditambah inget kata" Iga ini, jadi ketawa sendiri juga. Hahahahahahahahahahahahaha kocak juga ye idup. *bingung sendiri*
Udah segitu aja curcolannya, gue mau lanjut ngaspek dulu cyin. Banyak bots ini input data, Ngerjainnya aja sampe mau nangis saking banyaknya huhuhu TTT___TTT. *ini gue bingung, antara lebay apa lemah ye gue? *halah ga jelas. *yaudah ya, bye ol~
Sunday, September 22, 2013
Cerita KP Bali - Episode 1
Di sela-sela hecticnya
pengerjaan LKP, saya jadi teringat perjalanan hebat dan penuh kesan yang mendalam
sebelum, selama, dan sesudah KP di liburan musim panas kemarin. Entah kenapa
saya malah jadi ingin bercerita tentang kisah KP saya itu ya. Hehehe. Pasti pada pengen tau kan? Langsung saja
deh, kali ini saya hendak menceritakan kisah KP saya di Bali, tepatnya di kota
Denpasar, bertempat di sebuah konsultan perencanaan bernama PT Wartha Bakti
Mandala.
Pada mulanya, saat sebulan sebelum keberangkatan KP, ketika itu trend obrolan anak-anak Planologi '10 yang terjadi di ruang-ruang kelas maupun studio adalah obrolan mengenai IKP
seperti “eh lo mau KP dimana?”, “eh lo udah dapet IKP belom?”, “eh di sini (IKP x) enak ga ya?”, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang mengambang karena
saat itu memang pencerdasan mengenai KP ini masih dirasa kurang tergalakkan oleh
dosen. Ya memang kita harus mandiri mencari segala informasi sendiri, tidak melulu
disuapini sama dosen. Jadinya kami harus aktif mencari informasi entah dengan
browsing website IKP yang berkaitan atau bertanya langsung dengan senior-senior
di kampus. Walau demikian, kami pun tetap saja kebingungan mencari-cari IKP
yang ingin dipilih hahaha.
Saya pribadi pun sempat membatin sebenarnya produk dari mahluk
bernama KP ini apa sih, selain LKP dan tetek bengeknya. Terlebih lagi
kekhawatiran yang melanda diri saya saat itu adalah, pertanyaan apakah saya
mampu bertarung dengan mahluk ini? Apa saja yang harus saya persiapkan sebelum
saya bertarung dengan mahluk ini? Karena pikiran saya saat itu KP bagaikan
mahluk yang memiliki rupa seram *yaelah lebay deh lo -_-. Arti seram di sini
maksudnya keadaan ketika kita bakal dijejali tugas-tugas orang kantoran (baik
di bidang swasta atau pemerintahan), berinteraksi dan berdiskusi dengan orang
yang lebih tua, dan satu hal yang pasti adalah adanya tuntutan untuk bersikap
layaknya seorang yang professional, seakan kita sudah membawa gelar sarjana ini
namun pada kondisi percobaan yang bernama KP. Ya, intinya KP adalah dimana
kita, yang masih berstatus mahasiswa ini, keluar dari zona nyaman kita, zona
yang masih berkisar mengenai kehidupan perkampusan, dan ditantang (dilatih sih
lebih tepatnya, abis kata ‘ditantang’ kok kayaknya berat banget ye gan.
Yasudahlah sami mawon) untuk dapat mengarungi dunia kerja, sesuai dengan bidang
yang kita pelajari di akademisi masing-masing keahlian.
Huwah pusing gan. Ngebayangin keadaan yang seperti demikian acap
kali membuat hati ini tidak menyangka ketidakpercayaan betapa waktu bergerak
dengan cepat, hingga mendapati diri ini pun beranjak semakin tua dan dewasa, sudah saatnya
saya mulai membasahi diri dunia kerja dengan bersikap layaknya seorang pekerja
sesungguhnya! Baiklah, mari mulai focus me-list beberapa alternative IKP yang
saya akan pilih…
Awalnya saya memilih Bappenas dengan alasan sederhana, yakni agar
saya bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga karena letak instansi
yang dituju masih berada di dalam kota. Saking berniatnya ingin KP di sana,
saya pun sampai mengunjungi kantor tersebut yang berada di dekat Masjid Sunda
Kalapa, Jakarta Pusat. Saya ditemani oleh sahabat saya sedari SMA, Pratiwi
Rope, mahasiswi S1 Fakultas Ekonomi UI yang kebetulan dia juga hendak
mencari-cari pengalaman kerja sampingan di sana. Saya menanyakan perihal
syarat-syarat untuk dapat KP di instansi tersebut dan saya pun
bertemu dengan Ibu Endah, Biro SDM Kepegawaian Bappenas. Saya kumpulkan
informasi mengenai berkas-berkas yang harus dipersiapkan. Selesai berdiskusi,
saya dan Pratiwi ke toilet. Kami asyik berandai-andai menjadi pegawai sipil di
kantor Kementerian Negara ini. Rasanya kalau kita KP di sini bayangannya bakal jadi eksmud-eksmud yang
tiap pulang kerja selalu menyempatkan diri ‘makan-minum cantik’ di mal-mal
Jakarta, seperti GI dan Sency. Hahaha sudah heboh saja bayangan kita saat itu.
Waktu pun terus bergulir. Dan saya pun ternyata masih berada di ambang
kegalauan memilih IKP yang hendak dituju. Suatu ketika di studio slemania,
banyak anak-anak yang ramai membicarakan rencana KP (tentunya, sembari liburan
hahaha) di beberapa konsultan perencanaan di Bali. Wah nampaknya asyik sekali kalau
bisa KP sambil liburan ya pikir saya. Namun saya sendiri tidak pernah kepikiran
untuk KP di luar kota, terlebih di Bali. Rasanya sangat tidak memungkinkan
saja, sudah jaraknya sangat jauh, sepertinya kalau KP di sana akan memakan
biaya yang tidak sedikit alias banyak. Pasti orangtua saya juga kelabakan
membiayai kehidupan saya selama di sana. Ah, cepat-cepat saya mengubur pikiran
untuk KP di Bali.
Namun semakin hari ide ingin mencoba sesuatu yang baru; bisa
tinggal di daerah baru dan mengarungi segala pengalaman baru yang sudah pasti
seru di daerah tersebut; kerap kali muncul mendatangi pikiran saya. Alangkah serunya
jika saya dapat mengambil kesempatan KP di Bali. Apalagi kesempatan KP ini
hanya datang sekali saja selama masa kuliah. Sudah seharusnya saya cari
pengalaman yang baru seperti halnya KP ini, betapa menantangnya jika saya mampu
beradaptasi meninggali suatu daerah baru untuk beberapa bulan dan menjalani
aktifitas kerja sembari liburan di daerah tersebut. Pertimbangan saya tersebut juga didukung dengan
beberapa masukan senior yang menyarankan kalau mau KP mendingan di luar kota
saja. Hum, makin-makin saya dibuat galau dalam memilih IKP.
Oke, waktu semakin mendekati ujian akhir semester, hal ini
menandakan sudah saatnya menetapkan IKP pilihan. Adalah hari dimana saya
sengaja mengasingkan diri dari keramaian publik untuk berpikir keras demi
memilih IKP yang hendak dituju nanti. Saya pertimbangkan segala peluang yang
ada secara masak-masak. Berikut saya kumpulkan beberapa daftar kelebihan dan
kekurangan dari masing-masing calon IKP yang saya inginkan.
Daerah dan Instansi Kerja Praktek
|
|
Jakarta
|
Bali
|
(Bappenas)
|
(Konsultan Perencanaan)
|
Kelebihan
|
|
1. Dekat dengan rumah,
bisa meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga dan kerabat ketika akhir
pekan tiba
|
1. Bisa kerja sambil
refreshing berlibur menyusuri ke tempat-tempat wisata di Bali yang belum
pernah saya kunjungi sebelumnya
|
2. Lebih ekonomis,
tidak perlu mengeluarkan modal banyak untuk akomodasi dan transportasi serta
konsumsi (jelas karena semua dapat disediakan dari rumah sendiri)
|
2. Dapat kesempatan
mengenal daerah baru dengan segala budaya, lingkungan, aktifitas, dan
masyarakat di dalamnya
|
3. Bidang pemerintahan
biasanya cukup aman
|
3. Pemilik instansi
ini alumni planologi ITB juga sehingga cukup mudah mendapatkan akses
mendaftar sebagai praktikan di sana
|
Kekurangan
|
|
1. Sudah terlalu begah
dengan keruwetan dan kemacetan Jakarta yang rentan mengundang stress
|
1. Memakan biaya yang
mahal; tiket pesawat, sewa kosan, sewa motor, belum lagi biaya
hidup makan sehari-hari
|
2. Merasa kurang
berkembang kalau hanya mengenal kota ini melulu
|
2. Jauh dari orang
tua, khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kemudian bingung
bagaimana pulangnya lantaran jarak jauh
|
3. Denger-denger sih
ga dapet gaji (?)
|
|
Hasil dari pertimbangan saya tersebut saya diskusikan pula dengan
kedua orangtua saya. Kala itu saya tidak sempat pulang ke rumah. Alhasil
diskusi berlangsung melalui telefon. Saya jelaskan saya memiliki dua pilihan IKP,
pertama di Bappenas Jakarta dan kedua di konsultan perencanaan Bali, beserta
alasan kelebihan dan kekurangan dari tiap-tiap IKP tersebut. Saya utarakan
pula, bahwa sesungguhnya saya lebih cenderung menyukai pilihan yang kedua
berhubung saya termasuk anak yang gemar mencoba sesuatu hal baru, alangkah
gembira jika saya dapat diizinkan pergi KP ke Bali dan dapat mencoba
pengalaman-pengalaman baru nantinya. Di samping itu saya juga menyatakan kesediaan untuk mengurungkan niat kepergian jika orangtua saya ternyata kurang setuju dengan pilihan
saya itu karena terkait masalah pendanaan.
Namun tak disangka-sangka, ternyata orangtua saya dengan hangat mempersilahkan saya memilih apa yang menjadi pilihan saya, yakni untuk mewujudkan
mimpi-mimpi saya untuk dapat mengenyam kesempatan kerja praktek di tanah dewata
itu. Betapa bahagianya saya mendengar persetujuan mereka! Dan kekhawatiran
terhadap masalah biaya saya tidak perlu risau, dengan suara yang menenangkan,
orangtua saya mengatakan akan dengan segenap upaya mengirimkan uang selama penghidupan
saya di Bali nanti. Saya hanya perlu fokus terhadap pekerjaan yang harus
dikerjakan selama menjadi praktikan di tempat saya kerja nanti. Saya tidak bisa
lebih bersyukur dari ini, mempunyai orangtua yang sangat supportif terhadap
anaknya. Terima kasih banyak mah, pah :’). Oke, izin dan persetujuan orangtua
sudah di dapat, saatnya menyiapkan segala berkas yang dibutuhkan untuk mencapai
tahap penerimaan praktikan di IKP yang dituju.
Oh, dan sementara itu fix-lah tercipta sekelompok anak-anak Planologi '10 yang memilih
Bali sebagai daerah tempat KP nanti yang dinamakan 'Genk Bali'. Di genk pertama yang melamar
di PT. Wartha Bakti Mandala ada Irene Sarah, Samuella Magdalena, Utamining
Suwito, Wahyu Anhaza, dan Umar Al Faruq. Di genk yang lain yang melamar di PT.
Triangga Utama ada Gesti Saraswati, Retno Wuri Astuti, Trianti Maulida, Ridha
Ghalis, dan Yonathan Kurniawan. Adapun Soraya Rizka melamar di BTDC Nusa Dua.
Jadi total anak-anak Planologi '10 yang KP di Bali mencapai 11 orang. Dan
kalau dilihat-lihat lagi, orang-orang tersebut termasuk saya sendiri, genk bali
ini berasal dari mayoritas anak studio slemania lagi, studio slemania lagi,
hahaha *udah kya reunian aja kita.
Sampai suatu ketika genk kp bali saya terlihat sudah mulai sibuk
mengumpulkan berkas-berkas persyaratan seperti transkip nilai dan CV yang
dikolektifkan ke Ella (Ella ini yang paling rajin mengingatkan kami semua untuk
membuat berkas-berkas tersebut agar segera dikirimkan ke PT Wartha Bakti
Mandala. Terima kasih Ella, sudah rajin mengingatkan kita semua :D). Lalu
beberapa hari kemudian tibalah konfirmasi dari pihak PT Wartha Bakti Mandala
yang memberikan kabar bahwa kami berlima diterima sebagai praktikan KP di sana.
Alangkah bahagianya kami saat itu. Langsunglah kami bersiap merencanakan
keberangkatan dengan naik pesawat. Saat itu saya mengingat, kira-kira habis
isya di depan sekre himpunan tercinta kami duduk berlima mendiskusikan kapan tanggal
keberangkatan sekaligus tanggal kepulangan. Berhubung naik pesawat, kami harus
segera booking pemesanan tiket untuk meminimalkan biaya perjalanan. Setelah
mendapatkan tanggal keberangkatan dan tanggal kepulangan yang pasti, kami
berlima langsung bergegas ke kantor cabang AirAsia di Kartika Sari. Sesampai di
sana ternyata kantornya sudah tutup -_-. Yasudah akhirnya kami hanya
melihat-lihat toko kue di sana tanpa membeli apa-apa hahaha. Berjalan-jalan
tanpa tujuan tidak jelas ditambah dengan adanya perasaan khawatir tarif pesawat
akan segera naik, akhirnya kita memutuskan memesan tiket via online saat malam
itu juga. Kami duduk berlima sambil memperhatikan hp Ella yang digunakan untuk
memesan tiket via online. Ya, pemesanan telah selesai. Jadilah, kami akan berangkat ke
Bali pada tanggal 29 Mei 2013 jam 21.30 WIB. Wuowuooo Bali sudah di depan mata
gaaannn! :D
Saat libur semester ganjil tiba, saya memanfaatkan hari libur
yang ada tersebut (sebelum keberangkatan KP) dengan pulang ke rumah. Sembari menyiapkan
mental, saya benar-benar mendedikasikan diri saya untuk keluarga saya seperti membantu-bantu
Mama dan Mbak Nok dalam merapikan barang dagangan Tupperware di toko rumah, berdiskusi
berkualitas dengan Papa, bermain dengan adik tersayang Norman Fatahillah, hingga memomong
keponakan-keponakan tersayang, Ofi dan Fathiya. Betul-betul memanfaatkan waktu
berkualitas dengan seluruh anggota keluarga saya, saya jadi hampir tidak ada
waktu untuk bermain dengan teman-teman yang lain hahaha. Ya berhubung hendak berpisah
dengan jarak lumayan jauh di waktu yang cukup lama, saya sengaja memanfaatkan
waktu libur yang tersisa itu hanya untuk keluarga saya tercinta.
Tanggal 29 Mei 2013 semakin mendekat, saya seharusnya berangkat ke
Bandung pada tanggal 24 Mei, namun karena tiba-tiba saya jadi galau untuk
meninggalkan rumah, saya tunda berangkat besoknya. Namun keesokan harinya, saya malah semakin galau. Entah pikiran saya kalut karena mau meninggalkan rumah untuk
waktu yang cukup lama. Mana perginya lumayan jauh, ke Bali. Saya takut kalau
suatu saat di rumah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lalu saya harus
pulang ke rumah dari Bali dengan memakan biaya yang pasti tidak murah karena
harus memakai pesawat untuk PP. Hah sediiihhh :(. Pikiran negatif tersebut
sukses menahan saya untuk galau meninggalkan rumah. Saya pun menceritakan
tentang ketakutan saya ini ke orangtua saya. Namun mereka dengan yakinnya
menguatkan dan memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. “Sudah nak, kamu
tidak perlu takut berlebihan, karena insya Allah semua akan baik-baik saja.
Papa dan Mama akan terus mendoakan kamu di sana, agar sehat selalu. Kamu pun juga
harus turut membantu Papa dan Mama dengan mendoakan kami semua di rumah tetap sehat
selalu.” Dengan wajah yang menguatkan dan memastikan, akhirnya Papa saya
berhasil meyakinkan saya untuk kuat meninggalkan rumah. Saya pun memeluk kedua
orang tua saya erat sambil menitikkan air mata.
Akhirnya setelah 5 hari terjebak dalam kekhawatiran belaka hingga
harus menunda-nunda keberangkatan ke Bandung, pada pada malam hari tanggal 28
Mei 2013 saya pun meninggalkan Jakarta menuju Bandung. Sesampainya di sana, ternyata kosan
saya sudah di kunci -_-. Saya pun menelfon Mining untuk membukakan pintu
gerbang kosannya agar saya dapat menginap di tempat dia untuk malam itu.
Bukannya langsung tidur, kami berdua malah ngobrol-ngobrol seru sampai larut
subuh tentang kesiapan masing-masing dalam keberangkatan ke Bali. Hahaha
excited sekali kami saat malam itu!
Oke, akhirnya pagi hari tanggal 29 Mei 2013 telah tiba! Habis
bangun tidur, saya langsung beranjak ke kosan saya yang berjarak sangat dekat
dari kosan Mining. *bahkan kepleset pun nyampe *lebeh lo. Sesampai di kamar
saya, saya langsung bergegas packing semua perlengkapan seperti baju-baju
formal, non-formal, baju tidur, baju lucu-lucu buat di pantai lengkap dengan
topi pantainya (cie anak pantai mode: ON banget nih sis? Hahaha). Ditambah segala
perintilan-perintilan yang harus dibawa seperti laptop, ATK, buku bacaan, de el el. Dan… jadilah, seluruh perlengkapan perang yang berhasil dipacking ke
dalam dua buah koper besar! *buset mau pindahan banget mbak? -_-.
Magrib pun tiba. Taksi yang sudah dipesan Mining sebelumnya pun
telah datang dan sebentar lagi sampai ke kosan saya. Setelah masuk ke dalam
taksi, saya dan Mining meluncur ke kosannya Ella dulu. Di sana Ella sudah
menunggu kami untuk menjemput dia. Setelah semua sudah terangkut, kami bertiga
pun menuju Bandara Husein Sastranegara. Sesampainya di sana kami bertiga
langsung check in. Namun ketika pemeriksaan bagasi ternyata koper punya Ella
overweight berapa kilo gitu. Alhasil kami harus membongkar koper masing-masing
untuk saling berbagi beban bawaan agar merata sehingga bisa lolos
pemeriksaan bagasi *yaelah, ribet banget ye AirAsia, perasaan kalau GI
santai-santai aja deh *ya namanya juga maskapai sejuta umat, ya mau ga mau lo
harus nurut peraturannya :) *iya, iya.
Sehabis lolos pemeriksaan bagasi, kami bertiga menunggu di ruang
tunggu sambil ngobrol-ngobrol mengenai kelucuan pembongkaran koper kita
masing-masing tadi. Lalu muncullah ide kalau kepulangan nanti lebih baik
menambah jumlah bagasi biar tidak terjadi kejadian seperti itu lagi. Lagi asyik-asyik
ngobrol, Wahyu pun tiba menghampiri kami. Dan… ternyata dia membawa cerita yang
cukup lucu sekaligus menyedihkan. Ternyata dia kelebihan bagasi 1 kilo dan
harus membayar denda sebesar Rp 120.000 untuk kelebihan bagasi tersebut. Hahaha
pukpuk Wahyu :D. Oh iya, ketika itu kami juga bertemu dengan anak-anak
Arsitektur ’10 yang hendak pergi ke Bali juga untuk liburan yang ternyata satu
pesawat juga dengan kami. Oh, kalau Umar, dia masih di Qatar dan baru akan
berangkat ke Bali beberapa hari lagi. Jadi hanya kami berempat, saya, Ella,
Mining, dan Wahyu yang berangkat ke Bali dari Bandung.
Lalu pintu boarding pass pun dibuka, langsunglah kami semua
mengantri di barisan untuk masuk ke dalam pesawat. Dengan perasaan campur aduk saya
melangkahkan kaki menuju pesawat yang akan menerbangkan kami ke Bali. Aaaaakkkk
saking excitednya saya sampe teriak kesenengan!!! XD. Ketika saya memasuki
kabin pesawat, luntur sudah kekhawatiran saya sebelumnya tentang kepergian KP
di Bali ini yang berjarak lumayan jauh dari rumah untuk waktu yang cukup lama.
Yang ada hanyalah semangat yang membara dan rasa percaya diri yang
mantap, bahwa saya siap mengarungi kehidupan KP saya di Bali nanti.
Sebelum take off, saya sempatkan menelefon orangtua saya, untuk
memberitahukan mereka bahwa saya sudah di dalam pesawat dan akan segera berangkat menuju Bali. Saya memohon doa restu sebanyak-banyaknya, semoga kepergian KP saya ini
akan selamat, lancar, dan sukses dari kedatangan hingga kepulangan nanti. Amin.
Kemudian bunyilah peringatan untuk mematikan semua alat komunikasi dari sang operator kabin, saya langsung
menyudahi pembicaraan dengan orangtua saya tersebut. Dengan penuh semangat dan percaya
diri tinggi, saya memejamkan mata sambil berdoa agar semua rencana berjalan baik-baik saja. Bismillahirrahmanirrahiim…
…Akhirnya pesawat pun lepas
landas. Dalam hati saya ucapkan, "Bye Bandung! See you very soon, Bali! :)"
Oke, sekian
dulu cerita KP Bali episode 1 ini. Penasaran kelanjutan dari kisah perjalanan KP
saya? Tunggu saja episode-episode selanjutnya yang akan datang ;)
X.O.X.O,
Irene Sarah ♥
X.O.X.O,
Irene Sarah ♥
Subscribe to:
Comments (Atom)
