Mau curcol dikit ah tentang kekocakan hari ini...
Jadi hari ini gue baru pertama kali diskusi ke calon dosbing gue Pak Arief (amin dah insyaAllah beliau beneran jadi dosbing gue nantinya *pede *yakin). Bayangin udah berapa minggu perkuliahan semester 7 ini berjalan, baru sekarang dong gue sempet bertatap muka berdiskusi dengan calon dosbing -_- (gila segitu sibuknya kah gue sampe ga sempet ketemu sama calon dosbing sendiri hahaha). Itu juga gara" lagi jalan ga sengaja ketemu beliau di lorong gedung pas kita sama" mau naik lift. Begitu gue lihat Pak Arief langsunglah gue samperin ngajak janjian buat ngobrolin topik metlit gue. Beliau pun langsung mengiyakan tawaran itu.
Ketika jam menunjukkan pukul 16.00, gue langsung menuju ke ruangannya Pak Arief di lantai 3 sambil membawa proposal metlit gue. Diskusi berlangsung sebentar sekitar 30 menit gitu, tapi udah banyak hal yang didapat. Segala feedback-an positif dari dia membuat gue semakin bersemangat untuk menggarap topik otentik dari pemikiran gue sendiri (maksudnya bukan topik riset dosen) itu. Kata beliau proposal metlit gue judul topiknya udah bagus, isi sasaran penelitiannya pun juga cukup lumayan. Tinggal lebih diperdalam lagi aja, cari tambahan referensi buat masing" poin sasaran penelitian gue nantinya. Udah banyak catatan tambahan juga dari beliau untuk gue membuat tugas selanjutnya seperti menentukan kerangka berpikir, metode pengumpulan data, dan metode analisis. (Well, kalo ga ada studio, rasanya pengen gue kerjain aja deh tugas yang dikasih ini biar makin cepet pula TA gue kelarnya hahaha *pret *sok iye lo. Ya tapi apa daya, ternyata paksaan untuk menyelesaikan analisis studio lebih kuat bro :'( huhuhu *terus jadi inget analisis aspek yang belum kelar" *terjun dari tebing. aaaaaaaaaaaakkkkkkkk *blackout)
Dan... Pas keluar ruangannya Pak Arief, wajah gue pun menjadi sumringah. Gue pun balik lagi ke ruang seminar ngikut parallel session Planocosmo. Duduk di samping Dikaf, gue curhat lah hasil obrolan kebahagiaan gue pas diskusi sama Pak Arief tadi ke dia. Eh dia malah sok"an ga seneng sama keberhasilan gue itu. --> Fyi dia emang selalu kayak begini; NGESELIN.
D: gue akan selalu membuat lo down, ren...
I: *menatap dia dengan meme 'bitch please'-nya 9gag* *lalu merespon komennya Dikaf pake nyanyian roar dengan muka nantang* "you held me down, but I got up~ hey!" *terus langsung pergi*
D: *ketawa* --> lah die malah ketawa si ngono -_-
Kalo kata Iga, momen" begini seharusnya ada kotak item yang muncul di atas kepala kita, bertuliskan: BESTFRIEND. (maksudnya kayak di 9gag" gitu).
Gue kalo inget kejadian sore tadi, ditambah inget kata" Iga ini, jadi ketawa sendiri juga. Hahahahahahahahahahahahaha kocak juga ye idup. *bingung sendiri*
Udah segitu aja curcolannya, gue mau lanjut ngaspek dulu cyin. Banyak bots ini input data, Ngerjainnya aja sampe mau nangis saking banyaknya huhuhu TTT___TTT. *ini gue bingung, antara lebay apa lemah ye gue? *halah ga jelas. *yaudah ya, bye ol~
Tuesday, October 22, 2013
Sunday, September 22, 2013
Cerita KP Bali - Episode 1
Di sela-sela hecticnya
pengerjaan LKP, saya jadi teringat perjalanan hebat dan penuh kesan yang mendalam
sebelum, selama, dan sesudah KP di liburan musim panas kemarin. Entah kenapa
saya malah jadi ingin bercerita tentang kisah KP saya itu ya. Hehehe. Pasti pada pengen tau kan? Langsung saja
deh, kali ini saya hendak menceritakan kisah KP saya di Bali, tepatnya di kota
Denpasar, bertempat di sebuah konsultan perencanaan bernama PT Wartha Bakti
Mandala.
Pada mulanya, saat sebulan sebelum keberangkatan KP, ketika itu trend obrolan anak-anak Planologi '10 yang terjadi di ruang-ruang kelas maupun studio adalah obrolan mengenai IKP
seperti “eh lo mau KP dimana?”, “eh lo udah dapet IKP belom?”, “eh di sini (IKP x) enak ga ya?”, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang mengambang karena
saat itu memang pencerdasan mengenai KP ini masih dirasa kurang tergalakkan oleh
dosen. Ya memang kita harus mandiri mencari segala informasi sendiri, tidak melulu
disuapini sama dosen. Jadinya kami harus aktif mencari informasi entah dengan
browsing website IKP yang berkaitan atau bertanya langsung dengan senior-senior
di kampus. Walau demikian, kami pun tetap saja kebingungan mencari-cari IKP
yang ingin dipilih hahaha.
Saya pribadi pun sempat membatin sebenarnya produk dari mahluk
bernama KP ini apa sih, selain LKP dan tetek bengeknya. Terlebih lagi
kekhawatiran yang melanda diri saya saat itu adalah, pertanyaan apakah saya
mampu bertarung dengan mahluk ini? Apa saja yang harus saya persiapkan sebelum
saya bertarung dengan mahluk ini? Karena pikiran saya saat itu KP bagaikan
mahluk yang memiliki rupa seram *yaelah lebay deh lo -_-. Arti seram di sini
maksudnya keadaan ketika kita bakal dijejali tugas-tugas orang kantoran (baik
di bidang swasta atau pemerintahan), berinteraksi dan berdiskusi dengan orang
yang lebih tua, dan satu hal yang pasti adalah adanya tuntutan untuk bersikap
layaknya seorang yang professional, seakan kita sudah membawa gelar sarjana ini
namun pada kondisi percobaan yang bernama KP. Ya, intinya KP adalah dimana
kita, yang masih berstatus mahasiswa ini, keluar dari zona nyaman kita, zona
yang masih berkisar mengenai kehidupan perkampusan, dan ditantang (dilatih sih
lebih tepatnya, abis kata ‘ditantang’ kok kayaknya berat banget ye gan.
Yasudahlah sami mawon) untuk dapat mengarungi dunia kerja, sesuai dengan bidang
yang kita pelajari di akademisi masing-masing keahlian.
Huwah pusing gan. Ngebayangin keadaan yang seperti demikian acap
kali membuat hati ini tidak menyangka ketidakpercayaan betapa waktu bergerak
dengan cepat, hingga mendapati diri ini pun beranjak semakin tua dan dewasa, sudah saatnya
saya mulai membasahi diri dunia kerja dengan bersikap layaknya seorang pekerja
sesungguhnya! Baiklah, mari mulai focus me-list beberapa alternative IKP yang
saya akan pilih…
Awalnya saya memilih Bappenas dengan alasan sederhana, yakni agar
saya bisa meluangkan waktu lebih banyak bersama keluarga karena letak instansi
yang dituju masih berada di dalam kota. Saking berniatnya ingin KP di sana,
saya pun sampai mengunjungi kantor tersebut yang berada di dekat Masjid Sunda
Kalapa, Jakarta Pusat. Saya ditemani oleh sahabat saya sedari SMA, Pratiwi
Rope, mahasiswi S1 Fakultas Ekonomi UI yang kebetulan dia juga hendak
mencari-cari pengalaman kerja sampingan di sana. Saya menanyakan perihal
syarat-syarat untuk dapat KP di instansi tersebut dan saya pun
bertemu dengan Ibu Endah, Biro SDM Kepegawaian Bappenas. Saya kumpulkan
informasi mengenai berkas-berkas yang harus dipersiapkan. Selesai berdiskusi,
saya dan Pratiwi ke toilet. Kami asyik berandai-andai menjadi pegawai sipil di
kantor Kementerian Negara ini. Rasanya kalau kita KP di sini bayangannya bakal jadi eksmud-eksmud yang
tiap pulang kerja selalu menyempatkan diri ‘makan-minum cantik’ di mal-mal
Jakarta, seperti GI dan Sency. Hahaha sudah heboh saja bayangan kita saat itu.
Waktu pun terus bergulir. Dan saya pun ternyata masih berada di ambang
kegalauan memilih IKP yang hendak dituju. Suatu ketika di studio slemania,
banyak anak-anak yang ramai membicarakan rencana KP (tentunya, sembari liburan
hahaha) di beberapa konsultan perencanaan di Bali. Wah nampaknya asyik sekali kalau
bisa KP sambil liburan ya pikir saya. Namun saya sendiri tidak pernah kepikiran
untuk KP di luar kota, terlebih di Bali. Rasanya sangat tidak memungkinkan
saja, sudah jaraknya sangat jauh, sepertinya kalau KP di sana akan memakan
biaya yang tidak sedikit alias banyak. Pasti orangtua saya juga kelabakan
membiayai kehidupan saya selama di sana. Ah, cepat-cepat saya mengubur pikiran
untuk KP di Bali.
Namun semakin hari ide ingin mencoba sesuatu yang baru; bisa
tinggal di daerah baru dan mengarungi segala pengalaman baru yang sudah pasti
seru di daerah tersebut; kerap kali muncul mendatangi pikiran saya. Alangkah serunya
jika saya dapat mengambil kesempatan KP di Bali. Apalagi kesempatan KP ini
hanya datang sekali saja selama masa kuliah. Sudah seharusnya saya cari
pengalaman yang baru seperti halnya KP ini, betapa menantangnya jika saya mampu
beradaptasi meninggali suatu daerah baru untuk beberapa bulan dan menjalani
aktifitas kerja sembari liburan di daerah tersebut. Pertimbangan saya tersebut juga didukung dengan
beberapa masukan senior yang menyarankan kalau mau KP mendingan di luar kota
saja. Hum, makin-makin saya dibuat galau dalam memilih IKP.
Oke, waktu semakin mendekati ujian akhir semester, hal ini
menandakan sudah saatnya menetapkan IKP pilihan. Adalah hari dimana saya
sengaja mengasingkan diri dari keramaian publik untuk berpikir keras demi
memilih IKP yang hendak dituju nanti. Saya pertimbangkan segala peluang yang
ada secara masak-masak. Berikut saya kumpulkan beberapa daftar kelebihan dan
kekurangan dari masing-masing calon IKP yang saya inginkan.
Daerah dan Instansi Kerja Praktek
|
|
Jakarta
|
Bali
|
(Bappenas)
|
(Konsultan Perencanaan)
|
Kelebihan
|
|
1. Dekat dengan rumah,
bisa meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga dan kerabat ketika akhir
pekan tiba
|
1. Bisa kerja sambil
refreshing berlibur menyusuri ke tempat-tempat wisata di Bali yang belum
pernah saya kunjungi sebelumnya
|
2. Lebih ekonomis,
tidak perlu mengeluarkan modal banyak untuk akomodasi dan transportasi serta
konsumsi (jelas karena semua dapat disediakan dari rumah sendiri)
|
2. Dapat kesempatan
mengenal daerah baru dengan segala budaya, lingkungan, aktifitas, dan
masyarakat di dalamnya
|
3. Bidang pemerintahan
biasanya cukup aman
|
3. Pemilik instansi
ini alumni planologi ITB juga sehingga cukup mudah mendapatkan akses
mendaftar sebagai praktikan di sana
|
Kekurangan
|
|
1. Sudah terlalu begah
dengan keruwetan dan kemacetan Jakarta yang rentan mengundang stress
|
1. Memakan biaya yang
mahal; tiket pesawat, sewa kosan, sewa motor, belum lagi biaya
hidup makan sehari-hari
|
2. Merasa kurang
berkembang kalau hanya mengenal kota ini melulu
|
2. Jauh dari orang
tua, khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kemudian bingung
bagaimana pulangnya lantaran jarak jauh
|
3. Denger-denger sih
ga dapet gaji (?)
|
|
Hasil dari pertimbangan saya tersebut saya diskusikan pula dengan
kedua orangtua saya. Kala itu saya tidak sempat pulang ke rumah. Alhasil
diskusi berlangsung melalui telefon. Saya jelaskan saya memiliki dua pilihan IKP,
pertama di Bappenas Jakarta dan kedua di konsultan perencanaan Bali, beserta
alasan kelebihan dan kekurangan dari tiap-tiap IKP tersebut. Saya utarakan
pula, bahwa sesungguhnya saya lebih cenderung menyukai pilihan yang kedua
berhubung saya termasuk anak yang gemar mencoba sesuatu hal baru, alangkah
gembira jika saya dapat diizinkan pergi KP ke Bali dan dapat mencoba
pengalaman-pengalaman baru nantinya. Di samping itu saya juga menyatakan kesediaan untuk mengurungkan niat kepergian jika orangtua saya ternyata kurang setuju dengan pilihan
saya itu karena terkait masalah pendanaan.
Namun tak disangka-sangka, ternyata orangtua saya dengan hangat mempersilahkan saya memilih apa yang menjadi pilihan saya, yakni untuk mewujudkan
mimpi-mimpi saya untuk dapat mengenyam kesempatan kerja praktek di tanah dewata
itu. Betapa bahagianya saya mendengar persetujuan mereka! Dan kekhawatiran
terhadap masalah biaya saya tidak perlu risau, dengan suara yang menenangkan,
orangtua saya mengatakan akan dengan segenap upaya mengirimkan uang selama penghidupan
saya di Bali nanti. Saya hanya perlu fokus terhadap pekerjaan yang harus
dikerjakan selama menjadi praktikan di tempat saya kerja nanti. Saya tidak bisa
lebih bersyukur dari ini, mempunyai orangtua yang sangat supportif terhadap
anaknya. Terima kasih banyak mah, pah :’). Oke, izin dan persetujuan orangtua
sudah di dapat, saatnya menyiapkan segala berkas yang dibutuhkan untuk mencapai
tahap penerimaan praktikan di IKP yang dituju.
Oh, dan sementara itu fix-lah tercipta sekelompok anak-anak Planologi '10 yang memilih
Bali sebagai daerah tempat KP nanti yang dinamakan 'Genk Bali'. Di genk pertama yang melamar
di PT. Wartha Bakti Mandala ada Irene Sarah, Samuella Magdalena, Utamining
Suwito, Wahyu Anhaza, dan Umar Al Faruq. Di genk yang lain yang melamar di PT.
Triangga Utama ada Gesti Saraswati, Retno Wuri Astuti, Trianti Maulida, Ridha
Ghalis, dan Yonathan Kurniawan. Adapun Soraya Rizka melamar di BTDC Nusa Dua.
Jadi total anak-anak Planologi '10 yang KP di Bali mencapai 11 orang. Dan
kalau dilihat-lihat lagi, orang-orang tersebut termasuk saya sendiri, genk bali
ini berasal dari mayoritas anak studio slemania lagi, studio slemania lagi,
hahaha *udah kya reunian aja kita.
Sampai suatu ketika genk kp bali saya terlihat sudah mulai sibuk
mengumpulkan berkas-berkas persyaratan seperti transkip nilai dan CV yang
dikolektifkan ke Ella (Ella ini yang paling rajin mengingatkan kami semua untuk
membuat berkas-berkas tersebut agar segera dikirimkan ke PT Wartha Bakti
Mandala. Terima kasih Ella, sudah rajin mengingatkan kita semua :D). Lalu
beberapa hari kemudian tibalah konfirmasi dari pihak PT Wartha Bakti Mandala
yang memberikan kabar bahwa kami berlima diterima sebagai praktikan KP di sana.
Alangkah bahagianya kami saat itu. Langsunglah kami bersiap merencanakan
keberangkatan dengan naik pesawat. Saat itu saya mengingat, kira-kira habis
isya di depan sekre himpunan tercinta kami duduk berlima mendiskusikan kapan tanggal
keberangkatan sekaligus tanggal kepulangan. Berhubung naik pesawat, kami harus
segera booking pemesanan tiket untuk meminimalkan biaya perjalanan. Setelah
mendapatkan tanggal keberangkatan dan tanggal kepulangan yang pasti, kami
berlima langsung bergegas ke kantor cabang AirAsia di Kartika Sari. Sesampai di
sana ternyata kantornya sudah tutup -_-. Yasudah akhirnya kami hanya
melihat-lihat toko kue di sana tanpa membeli apa-apa hahaha. Berjalan-jalan
tanpa tujuan tidak jelas ditambah dengan adanya perasaan khawatir tarif pesawat
akan segera naik, akhirnya kita memutuskan memesan tiket via online saat malam
itu juga. Kami duduk berlima sambil memperhatikan hp Ella yang digunakan untuk
memesan tiket via online. Ya, pemesanan telah selesai. Jadilah, kami akan berangkat ke
Bali pada tanggal 29 Mei 2013 jam 21.30 WIB. Wuowuooo Bali sudah di depan mata
gaaannn! :D
Saat libur semester ganjil tiba, saya memanfaatkan hari libur
yang ada tersebut (sebelum keberangkatan KP) dengan pulang ke rumah. Sembari menyiapkan
mental, saya benar-benar mendedikasikan diri saya untuk keluarga saya seperti membantu-bantu
Mama dan Mbak Nok dalam merapikan barang dagangan Tupperware di toko rumah, berdiskusi
berkualitas dengan Papa, bermain dengan adik tersayang Norman Fatahillah, hingga memomong
keponakan-keponakan tersayang, Ofi dan Fathiya. Betul-betul memanfaatkan waktu
berkualitas dengan seluruh anggota keluarga saya, saya jadi hampir tidak ada
waktu untuk bermain dengan teman-teman yang lain hahaha. Ya berhubung hendak berpisah
dengan jarak lumayan jauh di waktu yang cukup lama, saya sengaja memanfaatkan
waktu libur yang tersisa itu hanya untuk keluarga saya tercinta.
Tanggal 29 Mei 2013 semakin mendekat, saya seharusnya berangkat ke
Bandung pada tanggal 24 Mei, namun karena tiba-tiba saya jadi galau untuk
meninggalkan rumah, saya tunda berangkat besoknya. Namun keesokan harinya, saya malah semakin galau. Entah pikiran saya kalut karena mau meninggalkan rumah untuk
waktu yang cukup lama. Mana perginya lumayan jauh, ke Bali. Saya takut kalau
suatu saat di rumah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lalu saya harus
pulang ke rumah dari Bali dengan memakan biaya yang pasti tidak murah karena
harus memakai pesawat untuk PP. Hah sediiihhh :(. Pikiran negatif tersebut
sukses menahan saya untuk galau meninggalkan rumah. Saya pun menceritakan
tentang ketakutan saya ini ke orangtua saya. Namun mereka dengan yakinnya
menguatkan dan memastikan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. “Sudah nak, kamu
tidak perlu takut berlebihan, karena insya Allah semua akan baik-baik saja.
Papa dan Mama akan terus mendoakan kamu di sana, agar sehat selalu. Kamu pun juga
harus turut membantu Papa dan Mama dengan mendoakan kami semua di rumah tetap sehat
selalu.” Dengan wajah yang menguatkan dan memastikan, akhirnya Papa saya
berhasil meyakinkan saya untuk kuat meninggalkan rumah. Saya pun memeluk kedua
orang tua saya erat sambil menitikkan air mata.
Akhirnya setelah 5 hari terjebak dalam kekhawatiran belaka hingga
harus menunda-nunda keberangkatan ke Bandung, pada pada malam hari tanggal 28
Mei 2013 saya pun meninggalkan Jakarta menuju Bandung. Sesampainya di sana, ternyata kosan
saya sudah di kunci -_-. Saya pun menelfon Mining untuk membukakan pintu
gerbang kosannya agar saya dapat menginap di tempat dia untuk malam itu.
Bukannya langsung tidur, kami berdua malah ngobrol-ngobrol seru sampai larut
subuh tentang kesiapan masing-masing dalam keberangkatan ke Bali. Hahaha
excited sekali kami saat malam itu!
Oke, akhirnya pagi hari tanggal 29 Mei 2013 telah tiba! Habis
bangun tidur, saya langsung beranjak ke kosan saya yang berjarak sangat dekat
dari kosan Mining. *bahkan kepleset pun nyampe *lebeh lo. Sesampai di kamar
saya, saya langsung bergegas packing semua perlengkapan seperti baju-baju
formal, non-formal, baju tidur, baju lucu-lucu buat di pantai lengkap dengan
topi pantainya (cie anak pantai mode: ON banget nih sis? Hahaha). Ditambah segala
perintilan-perintilan yang harus dibawa seperti laptop, ATK, buku bacaan, de el el. Dan… jadilah, seluruh perlengkapan perang yang berhasil dipacking ke
dalam dua buah koper besar! *buset mau pindahan banget mbak? -_-.
Magrib pun tiba. Taksi yang sudah dipesan Mining sebelumnya pun
telah datang dan sebentar lagi sampai ke kosan saya. Setelah masuk ke dalam
taksi, saya dan Mining meluncur ke kosannya Ella dulu. Di sana Ella sudah
menunggu kami untuk menjemput dia. Setelah semua sudah terangkut, kami bertiga
pun menuju Bandara Husein Sastranegara. Sesampainya di sana kami bertiga
langsung check in. Namun ketika pemeriksaan bagasi ternyata koper punya Ella
overweight berapa kilo gitu. Alhasil kami harus membongkar koper masing-masing
untuk saling berbagi beban bawaan agar merata sehingga bisa lolos
pemeriksaan bagasi *yaelah, ribet banget ye AirAsia, perasaan kalau GI
santai-santai aja deh *ya namanya juga maskapai sejuta umat, ya mau ga mau lo
harus nurut peraturannya :) *iya, iya.
Sehabis lolos pemeriksaan bagasi, kami bertiga menunggu di ruang
tunggu sambil ngobrol-ngobrol mengenai kelucuan pembongkaran koper kita
masing-masing tadi. Lalu muncullah ide kalau kepulangan nanti lebih baik
menambah jumlah bagasi biar tidak terjadi kejadian seperti itu lagi. Lagi asyik-asyik
ngobrol, Wahyu pun tiba menghampiri kami. Dan… ternyata dia membawa cerita yang
cukup lucu sekaligus menyedihkan. Ternyata dia kelebihan bagasi 1 kilo dan
harus membayar denda sebesar Rp 120.000 untuk kelebihan bagasi tersebut. Hahaha
pukpuk Wahyu :D. Oh iya, ketika itu kami juga bertemu dengan anak-anak
Arsitektur ’10 yang hendak pergi ke Bali juga untuk liburan yang ternyata satu
pesawat juga dengan kami. Oh, kalau Umar, dia masih di Qatar dan baru akan
berangkat ke Bali beberapa hari lagi. Jadi hanya kami berempat, saya, Ella,
Mining, dan Wahyu yang berangkat ke Bali dari Bandung.
Lalu pintu boarding pass pun dibuka, langsunglah kami semua
mengantri di barisan untuk masuk ke dalam pesawat. Dengan perasaan campur aduk saya
melangkahkan kaki menuju pesawat yang akan menerbangkan kami ke Bali. Aaaaakkkk
saking excitednya saya sampe teriak kesenengan!!! XD. Ketika saya memasuki
kabin pesawat, luntur sudah kekhawatiran saya sebelumnya tentang kepergian KP
di Bali ini yang berjarak lumayan jauh dari rumah untuk waktu yang cukup lama.
Yang ada hanyalah semangat yang membara dan rasa percaya diri yang
mantap, bahwa saya siap mengarungi kehidupan KP saya di Bali nanti.
Sebelum take off, saya sempatkan menelefon orangtua saya, untuk
memberitahukan mereka bahwa saya sudah di dalam pesawat dan akan segera berangkat menuju Bali. Saya memohon doa restu sebanyak-banyaknya, semoga kepergian KP saya ini
akan selamat, lancar, dan sukses dari kedatangan hingga kepulangan nanti. Amin.
Kemudian bunyilah peringatan untuk mematikan semua alat komunikasi dari sang operator kabin, saya langsung
menyudahi pembicaraan dengan orangtua saya tersebut. Dengan penuh semangat dan percaya
diri tinggi, saya memejamkan mata sambil berdoa agar semua rencana berjalan baik-baik saja. Bismillahirrahmanirrahiim…
…Akhirnya pesawat pun lepas
landas. Dalam hati saya ucapkan, "Bye Bandung! See you very soon, Bali! :)"
Oke, sekian
dulu cerita KP Bali episode 1 ini. Penasaran kelanjutan dari kisah perjalanan KP
saya? Tunggu saja episode-episode selanjutnya yang akan datang ;)
X.O.X.O,
Irene Sarah ♥
X.O.X.O,
Irene Sarah ♥
Friday, July 19, 2013
Seumur-umur naik motor, baru perdana kali ini saya jatuh...
Kira-kira ukuran seumur-umur itu adalah sekitar 10 tahun. Ya,
saya mulai bisa mengendarai sepeda motor sejak masih duduk di kelas 1 SMP di
tahun 2003. Kala itu saya diajarin sama teman cowok saya (dasar, kenapa harus
teman cowok? Bukannya bapak atau kakak sendiri ye | waktu itu mereka sedang
sibuk semua, alhasil teman cowok saya inilah yang ngajarin saya untuk bisa naik
motor). Dan saat ngegas untuk pertama kalinya saya langsung dapat menyeimbangkan
diri dan akhirnya saya pun melaju dengan konstan. Merasa takjub hampir tidak
percaya, akhirnya saya bisa juga membawa motor! Horeee!
Sejak saat itu saya pun makin mahir mengendarai motor, dari di jalan lingkungan maupun jalan besar. Kalau
mau tau nih, gaya saya dalam mengendarai motor semacam agak serabutan (yang
pernah diboncengin saya pasti merasakan betapa saya kalau naik motor udah kayak
ulet kepanasan terlebih pas adegan nyalip-nyalipnya hahaha). Tapi tenang aja, walau
demikian saya tetap pada tingkat keamanan yang bisa dimasukkan ke dalam
kategori pengendara motor paling aman sedunia (jir lebai). Iya, bahkan saya nyaris
tidak pernah mendapatkan pengalaman kecelakaan sedikit pun ketika membawa motor
di jalan loh. Percaya deh.
Namun, kali ini anda boleh kecewa (silahkan saja, lagi pula
saya juga kecewa sama sendiri nih, akhirnya nyicipin juga pengalaman jatuh dari
motor setelah 10 tahun mahir berkendara | ya namanya juga kecelakaan ya, bisa terjadi
ke siapa pun, kapan pun, dimana pun). Tahun 2013 ini adalah kali pertama saya
mendapat kecelakaan ketika sedang mengendarai motor. Tepatnya di Jalan Raya
Puputan Renon, Denpasar.
Jadi gini ceritanya. Semalam, saya dan berduabelas teman PLIO
sedang konvoi berenam motor saat mencari tempat makan untuk disantap bersama
sekaligus merayakan kedatangan teman kami dari PU Jakarta, Dwiky Sarahidha dan
Taya Pratiwi. Posisinya Sarah membonceng Gesti, saya membonceng Mining, Wahyu
membonceng Taya, melaju di sebelah kiri jalan. Lalu muncullah secara tiba-tiba
Ella yang dibonceng oleh Umar dari arah sebelah kanan jalan sambil teriak “Eh
belok kanan choy, belok kanan!”. Saya yang mendengarnya langsung sigap
menyalakan lampu sen ke arah kanan. Namun sayang, saya kurang berhati-hati.
Saya lupa kalau orang mau belok ya nunggu kendaraan yang mau lurus ya. Eh ini
saya malah hajar terus buat belok ke kanan itu. Dan…BRAK! Saya tersenggol badan
mobil di lampu depan bagian kiri, saya langsung banting setir, kemudian
langsung oleng sedikit. Dan akhirnya motor pun terjatuh di jalan. Keadaan lalu
lintas yang tadinya hectic seketika langsung membeku karena adanya kecelakaan
di muka jalan tersebut. Ketika motor terjatuh, untungnya saya dan Mining tidak
ikut terjatuh juga. Kami pun langsung bisa berdiri tegap seakan tak terjadi
apa-apa. Kemudian saya langsung mengangkat motor itu dan kembali menaikinya.
Sambil duduk di atas motor saya langsung memberi tanda maaf kepada pengemudi
mobil tersebut yang saya kira dia akan turun dari mobil dan marah-marah ke saya
(jelas saya berpikir demikian, karena memang dalam kejadian ini saya yang
salah). Namun ternyata pengemudi mobil yang berperawakan kebapak-bapakan itu
malah tersenyum seakan memaafkan keteledoran pengendara motor seperti saya. Wah
terharu deh :’D
Teman-teman yang menyaksikan kejadian tersebut langsung
segera menepikan motor-motornya dan menyamperi saya dan Mining untuk memastikan
kami masih baik-baik saja. Di titik ini, saya dapat melihat kekhawatiran dari
air muka mereka terhadap keadaan saya dan Mining. Gila terharu saya melihat
mereka semua langsung sigap begitu :’). Dan untunglah, saya dan Mining memang
baik-baik saja, alias tidak mendapat luka darah atau luka nyenyeh sedikit pun.
Alhamdulillah kami semua masih dilindungi sama Allah SWT :)
Kondisi lalu lintas yang sempat terhenti itu akhirnya
berlanjut ramai lancar kembali. Ella menawarkan untuk menyetirkan motor yang
saya bawa tadi. Sempat saya menolaknya karena saya rasa saya masih mampu untuk
membawanya. Namun dia mengatakan lebih baik saya istirahat terlebih dahulu
untuk menenangkan diri dari shock. Dan ternyata memang saya sempat mengalami
shock, akhirnya saya pun nurut untuk dibonceng di belakang. Mengingat kejadian
tadi, langsunglah saya tertawa-tertawa karena merasa selamat dari maut hahaha.
(Sarap ye emang, orang abis jatoh kecelakaan malah ketawa-ketawa -_-)
Sesampainya kami di tempat makan yang berlokasi di Jalan
Badak Agung itu, seketika langsung heboh kembali kami membahas kejadian tadi. Dengan
serunya kami saling mengungkapkan kronologis kejadian tadi. Duduk bersampingan
di sebelah Mining, saya tak hentinya meminta maaf karena sudah membuat dia
merasakan jatuh lagi untuk yang kedua kalinya selama di Bali ini. Kejadian
pertama saat dia dibonceng Ella. Ya setidaknya sekarang adil lah ya, ‘genk kp
bali’ kini cewek-ceweknya sudah pernah mencicipi ‘maut’ di sini. Hahaha.
Oke, segitu dulu aja #ceritakp gue kali ini. Fyi, sebenernya
gue udah banyak nulis segala momen selama di kp di sini sih, cuma baru masuk
draft aja. Nanti kalau udah dirasa pas buat dipublish, gue posting deh ya!
Dadah! :*
Monday, May 13, 2013
Great Influence from Great Figure
Who's not happy on earth when your idol --role model-- has finally notice you and following you on twitter? The lucky is, it just happens to me already guys! And you know what, I feel nothing but happy like seriously happy!!!
Now, I'd like to introduce my Idol hehehe. He is I Made Andi Arsana (I've had written about him before on this blog. Just check it if you want to know). I'm literally head over heels crazy with his blog. He's really great in his field, as Geodetic Engineering, a writer, a lecturer, and also as a father. Not only that, even if he has become such a successful man, he is always share every little things in his life, spread the good things or positive energy and put it on his blog. And this is, what makes me admiring him more than anyone else!!! Hahaha call me weird but I really amazed by his achievements and his works. Oh and also, I have a dream, one day, I can meet him and tell him directly, how great he is, and say thanks for being massive figure in my life.
Oh I'm gonna tell the other good news of mine hehe. So the book Berguru ke Negeri Kangguru written by him, that I've been waiting for so long, it has finally arrived tonight. Yeayness!!! :D I'll definitely use this book as a guide light to help me achieve my biggest goal after graduate from ITB, to get AAS (Australian Awards Scholarship) then continue my post-graduate study to Australia! The specific city is in Sydney! I don't know, I just feel that I have a strong feeling since I came to that city for the first time, I could be able to be back again to that city, either for spending another holiday or spending the rest of my life time to live in that beautiful city. Insya Allah, amin ya rabbal alamin :). I believe, if we have faith, then we do the hard work for it, our dreams is getting closer to reality. Well yes, I'm on way to pursue my Australian dream, just like what Made Andi teach me both in his blog and book. Thank you Made Andi, for bringing tons of inspiration and motivation to my life :)
Now, I'd like to introduce my Idol hehehe. He is I Made Andi Arsana (I've had written about him before on this blog. Just check it if you want to know). I'm literally head over heels crazy with his blog. He's really great in his field, as Geodetic Engineering, a writer, a lecturer, and also as a father. Not only that, even if he has become such a successful man, he is always share every little things in his life, spread the good things or positive energy and put it on his blog. And this is, what makes me admiring him more than anyone else!!! Hahaha call me weird but I really amazed by his achievements and his works. Oh and also, I have a dream, one day, I can meet him and tell him directly, how great he is, and say thanks for being massive figure in my life.
Oh I'm gonna tell the other good news of mine hehe. So the book Berguru ke Negeri Kangguru written by him, that I've been waiting for so long, it has finally arrived tonight. Yeayness!!! :D I'll definitely use this book as a guide light to help me achieve my biggest goal after graduate from ITB, to get AAS (Australian Awards Scholarship) then continue my post-graduate study to Australia! The specific city is in Sydney! I don't know, I just feel that I have a strong feeling since I came to that city for the first time, I could be able to be back again to that city, either for spending another holiday or spending the rest of my life time to live in that beautiful city. Insya Allah, amin ya rabbal alamin :). I believe, if we have faith, then we do the hard work for it, our dreams is getting closer to reality. Well yes, I'm on way to pursue my Australian dream, just like what Made Andi teach me both in his blog and book. Thank you Made Andi, for bringing tons of inspiration and motivation to my life :)
Wait for me Sir, I see you very soon!
Saturday, May 11, 2013
Hubungan Pertemanan/Interaksi Terhadap Sesama
Ada beberapa sedikit hal yang ingin saya ungkapan di tulisan kali ini. Menyangkut kebimbangan saya akan memilih teman bergaul di lingkungan saya sekarang. Pernah kuberpikir, sudahlah untuk apa harus sampai dicurahkan ke blog segala. Toh saya juga masih bisa menghandle masalah ini. Pernah juga saya menaruh harapan kecil bahwa teman di lingkungan sekitar saya itu akan berubah lambat laun dan mengerti bagaimana cara untuk bergaul dengan penuh toleransi terhadap sesama. Namun harapan saya lama-lama luntur. Hal inilah yang menjadikan saya berani curahkan kebimbangan ini ke blog saya kali ini.
Mungkin memang benar, manusia tidak akan berubah kalau bukan dirinya sendiri yang mengubahnya. Kadang kala kita berbuat baik pun, belum tentu dapat dibalas dengan kebaikan juga. Yang ada malah kepahitan yang diterima. Atau mungkin orang tersebut tidak mampu menangkap sinyal baik kita atau mereka tidak sadar bahwa kita sudah berusaha untuk mengusahakan hubungan ini dengan sebaik-baiknya karena mereka terlalu sibuk mementingkan kepentingannya sendiri. Padahal perlu kita ketahui kawan, kehidupan ini menyangkut hubungan timbal-balik sesama manusia yang disebut dengan interaksi sosial. Kalau hanya tercipta komunikasi 1 arah saja, bagaimana mungkin tercipta kondisi sosial yang memumpuni? Tidakkah kondisi sosial akan lebih indah jika kita mau mendengar dan saling memahami satu sama lain? Tidak dipungkiri, kita semua ingin dimengerti atau dianggap penting. Ya, memang baik menjadi orang penting. Namun lebih penting lagi menjadi orang baik, kawan. Orang baik adalah orang yang mampu beradaptasi dimanapun berada. Tapi yang saya rasakan dari hubungan sini belum adanya adaptasi yang baik. Terlihat dari masih adanya orang yang maunya berbicara terus tapi giliran mendengarkan tidak dengan sepenuh hati. Percuma ya. Iya percuma. Ditambah sebenarnya saya juga tidak mendapatkan suatu manfaat positif yang berarti dari hubungan ini. Karena topik yang diperbincangkan hanya sebatas itu-itu saja. Mana bisa kita berkembang? Ketika yang kita inginkan adalah lingkungan yang mampu mendorong kita untuk mengembangkan potensi diri dan mendukung kita untuk menggapai impian yang kita miliki. Malah faktanya di sini ada indikasi yang saling bertolakbelakang. Kondisi ini akan menghambat pencapaian cita-cita kita sendiri. Jangan sampai salah bergaul dengan lingkungan yang tidak mendukung tersebut cita-cita kita akan perlahan terbunuh. Ah, kritis sekali hubungan pertemanan yang kita jalin ini.
--Mungkin di antara kalian yang membaca tulisan ini menganggap saya berlebihan atau semacamnya. Tapi jika anda coba menjadi saya, anda akan merasa bahwa hal ini bukanlah hal yang biasa. Bayangkan, ketika ada suatu kondisi yang dirasa bertabrakan dengan cita-cita dan impian anda, pastilah anda akan menilai hal tersebut dengan sepenuh hati bahkan hingga logika turut andil menimbang kondisi itu. Begitu juga dengan saya, yang sudah cukup bersabar dalam menahan kondisi pahit ini sejak lama. Sampai akhirnya, muncullah keberanian diri untuk memutuskan keputusan yang terbaik demi kebaikan saya sendiri.--
Daripada hati saya tersakiti terus, untuk apa saya pertahankan hubungan pertemanan ini. Ya saya rasa saya harus segera memutuskan hubungan dengan orang-orang yang membawa dampak negatif kepada kita. Lagipula masih ada sahabat-sahabat setia yang kita miliki ditambah masih banyak teman-teman lain di luar sana dengan segala hal positif yang mereka miliki, tidak hanya dalam hal kebaikan, namun orang-orang di luar sana juga memiliki rasa toleransi yang tinggi dalam berteman. Daripada kita terkungkum dengan lingkungan yang tidak mendukung kita untuk mencapai tujuan dan cita-cita kita, lebih baik kita keluar dari lingkaran itu, berjumpa dengan orang-orang baru yang memiliki pengaruh yang lebih positif, dan mulai menjalin hubungan pertemanan baru yang positif dengan mereka. InsyaAllah dengan begini kita mampu secara selaras dan sinergis mengembangkan potensi diri sekaligus menggapai impian di masa depan bersama.
Sesuai dengan pepatah bijak mengatakan:
'Akan selalu ada orang yang suka atau tidak suka. Kita akan kelelahan jika mengusahakan SEMUA orang suka dan akhirnya tidak melakukan apa-apa' - Made Andi
'Tinggalkan mereka yang membawa dampak negatif padamu dan mulailah mengelilingi dirimu dengan orang-orang yang membawa dampak positif dan terbaik dalam dirimu' - Papa saya
Oke, mulai dari sekarang saya harus berani berdiri atas pemikiran dan keputusan yang telah saya buat. Saya pun tidak perlu takut untuk memiliki prinsip, karena saya yakin, pada akhirnya prinsip itulah yang akan membawa kita ke pintu kesuksesan di masa depan. Amin.
Catatan: siapapun kita, apapun status dan jabatan kita, sangat penting bagi kita untuk tahu cara berinteraksi yang baik terhadap sesama dengan tidak merasa paling tinggi terlebih lagi sampai merendahkan orang lain, hal ini akan membuat kita menjadi manusia pembelajar yang paling mulia.
Subscribe to:
Comments (Atom)

